630 Pemuda Tulungagung positif HIV-AIDS

yudi98422
1784639279442

TULUNGAGUNG-Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Tulungagung mencatat 630 pemuda positif HIV-AIDS. Tren penyebaran mulai merembet ke usia pelajar.

Sekretaris KPA Tulungagung, Ifada Nurrohmania mengatakan dari awal kasus ditemukan jumlah orang dengan HIV (Odhiv) di wilayah mencapai 4.540 orang. Dari jumlah tersebut didominasi oleh usia produktif.

“Kemudian dari jumlah itu ada 630 remaja usia 13-25 tahun yang positif HIV. Ini tentu mengkhawatirkan,” kata Ifada saat sosialisasi di SMKN 1 Boyolangu, (20/7/2026).

Pihaknya mendeteksi terjadinya pergeseran usia remaja yang terjangkit HIV-AIDS dengan dominasi pada ke 15-19 tahun. Banyaknya temuan kasus pada rentang usia tersebut diakibatkan oleh sejumlah faktor, mulai dari penularan melalui hubungan seksual bebas maupun penularan dari orang tua Odhiv.

“Kalau remaja ini lebih ke seks bebas, mayoritas ya heteroseksual. Namun, ada juga yang homoseksual,” jelasnya.

Terkait tingginya kasus HIV pada remaja di Tulungagung, KPA mengintensifkan upaya pencegahan dengan mengintensifkan sosialisasi dan pembinaan terhadap para pelajar.

KPA menjalin kerja sama dengan sejumlah sekolah guna memberikan pengetahuan dasar terkait HIV-AIDS melalui program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Hari ini kami diminta oleh SMKN 1 Boyolangu untuk memberikan sosialisasi terkait perundingan. Kami juga menyisipkan materi soal HIV dan reproduksi,” jelasnya.

Salah satu penekanan yang diberikan kepada pelajar adalah menghindari hujan seks sebelum menikah dan mencegah terjadinya perundungan. “Kuncinya adalah mencintai tanpa telanjang, jangan terbujuk rayu melakukan hubungan seks sebelum menikah,” kata Ifada.

Ia menyebut pemahaman anak didik terhadap persoalan reproduksi dan HIV-AIDS cukup penting untuk memberikan batasan dalam pergaulan. Derasnya arus informasi di dunia maya harus diimbangi dengan edukasi langsung dari orang tua, lingkungan dan sekolah.

“Pengetahuan ini juga penyeimbang dari medsos. Kalau mereka tidak dikasih edukasi penyeimbang, ya nanti efeknya juga mereka beranggapan yang di medsos itu yang benar bahwa perilaku seperti itu jadi dinormalisasi,” imbuhnya.

Sementara itu staf kesiswaan SMKN 1 Boyolangu, Baskoro mengatakan upaya menggandeng KPA sebagai upaya untuk memitigasi dan mencegah terjadinya perundungan maupun penyebaran HIV-AIDS.

“Persoalan remaja itu harus dideteksi sedini mungkin karena bahayanya bisa merembet ke mana-mana,” kata Baskoro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *